PTS lebih baik dari pada PTN

PERSAINGAN antar perguruan tinggi makin ketat.Selama ini perguruan tinggi negeri (PTN) dinilai oleh perguruan tinggi swasta (PTS) telah banyak merebut pasarnya,lantaran banyaknya jalur masuk mahasiswa baru yang dibuka PTN.Di sisi lain,kualitas PTS masih dipandang berada di bawah PTN. Di wilayah Surakarta, terdapat PTS yang tidak bisa dipandang sebelah mata,yakni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Beberapa tahun ke depan,PTS ini berani untuk diadu dengan PTN. Bahkan, dijanjikan mampu mengunggulinya. Mengapa demikian? Berikut petikan wawancaranya dengan Rektor UMS Surakarta Prof Bambang Setiaji.Selama ini, UMS dipandang sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang bonafit. Apa yang menjadikannya seperti ini?



Alhamdulillah masyarakat masih mempercayai UMS.Dengan jumlah mahasiswanya sekitar 23.000 orang, UMS merupakan perguruan tinggi swasta besar di Indonesia.Ini disebabkan oleh penyelenggaraan pendidikan di UMS yang benar-benar bersifat nirlaba, itulah yang menjadi kuncinya.

Bagaimana peran yang Anda lakukan?

Nirlaba itulah yang menjadi kunci sehingga seluruh pendapatan pendidikan dikembalikan untuk pendidikan. Di UMS ada dua hal yang ditekankan yaitu untuk operasional rutin dan menambah pendidikan dosen (studi lanjut), satunya lagi untuk sarana dan prasarana pendidikan. Jumlah dosen UMS yang studi lanjut di seluruh dunia, terutama Eropa, berjumlah 12%.Lima tahun ke depan, kita berharap 20-25% dosen memiliki pengalaman studi di negara maju.Di sini peran bea siswa pemerintah yang terbuka untuk PTS sangat penting. Kalau sistem terbuka ini berlanjut, saya berjanji akan memiliki SDM yang lebih baik,bahkan dari institusi Negeri.

Melihat persaingan antar perguruan tinggi yang kian ketat,bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Ya memang persaingan antar perguruan tinggi dewasa ini sangat ketat. PTS cenderung kalah, kita jangan menghujat,tetapi perlu introspeksi,kualitas yang kita berikan memang perlu ditingkatkan. Akan tetapi, kalau pemerintah juga membuka kebebasan untuk meraih dana program seperti yang dibuka sekarang ini, misalnya seperti riset, hibah perbaikan program studi, dan kran pendidikan studi lanjut ke luar negeri,maka saya berjanji dalam 8 tahun ke depan PTS bisa lebih baik dari kualitasnya dari PTN.

Masyarakat belum mengerti hal ini dan untuk itu perlu kami tekankan. Kami sangat efisien dan memiliki high fighting spirit. Lebih-lebih kalau subsidi pendidikan pemerintah untuk kuliah diberikan adil kepada setiap mahasiswa yang belajar di negeri atau swasta,misalnya subsidi pendidikan dihitung dari jumlah mahasiswa yang diasuh, kalau begitu kualitas kami akan lebih baik lagi.

Tapi, masih banyak kalangan menilai, PTN lebih menarik bagi calon mahasiswa daripada PTS?

Ya masih terdapat bias, masyarakat masih memilih negeri,mungkin karena murah, dan mengira selalu lebih baik. Seperti usul saya, kalau pemerintah membuka kran seperti yang sekarang sudah diberikan, seperti kesempatan hibah studi lanjut,hibah riset,dan hibah memnperbaiki institusi, artinya dari sisi pengembangan tidak ada kendala lagi bagi PTS.Tinggal masalah operasional atau rutin saja. Apalagi, pemerintah juga sudah memberikan subsidi berupa tunjangan sertifikasi dosen dan juga guru.Hal ini sangat baik dan mendorong PTS meningkatkan kualitas SDM-nya.

Bukankah penilaian “yang penting di negeri” yang banyak muncul di masyarakat berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan pendidikan?

Beberapa program studi di PTS sebenarnya sudah lebih baik jika dilihat dari SDM pengasuh dan program belajar yang ditawarkan. Hanya saja, untuk hal-hal semacam ini, selama ini masyarakat sering belum mengetahui. Kalau sudah tahu,tentu masyarakat akan memilih program kami. Kami memiliki program di Teknik Mesin UMS dilakukan kerja sama dengan salah satu fakultas teknik di Inggris.

Programnya adalah transferable SKS, mahasiswa akan belajar di UMS 3 tahun, plus 1 tahun di Inggris untuk memperoleh sarjana, dan plus 1 tahun berikutnya untuk memperoleh master. Dengan kata lain dalam 5 tahun mahasiswa sudah mendapat master dari univeristas yang baik. Demikian juga jurusan lain sedang merintis kerja sama dual degree dengan universitas di luar negeri.Pengalaman belajar di dua negara tentuakanmemberikeluasan wawasan,pengalaman hidup, dan penggemblengan diri. Singkatnya masyarakat jangan bias,bahwa di swasta sudah dilakukan terobosan-terobosan yang bagus.

Apa yang seharusnya dilakukan PTN dan PTS?

Ya secara umum, kita ini tertinggal dari Barat. Ini perjuangan bersama, kita harus perbaiki kultur yang lebih mendasar. Pemerintah tidak memiliki politik budaya. Bahkan pemerintah itu konyol,apabila bicara budaya, pasti tari-tarian, ratu-ratuan, festival-festival yang boros di tengah kemiskinan rakyat. Politik budaya itu adalah menegakkan kejujuran, empati kepada si lemah,daya juang yang tinggi (semangat jihad), dan politik hubungan sosial seperti kepada yang tua dan ikhlas kepada yang muda dan seterusnya. Kepada alam jangan merusak.Ini semua politik budaya.

Sebagai orang tua, sekaligus juga Rektor, apa yang menjadi harapan Anda terkait pedidikan di perguruan tinggi?

Menyangkut pembiayaan, biaya pendidikan kita sebenarnya sangat murah dibandingkan dengan biaya pendidikan di Barat. Di Barat, biayanya adalah 3.000% (30 kali lipat) dari kita. Dengan biaya pendidikan yang tinggi itu, tentu saja rakyat tidak mampu menanggung biaya pendidikan. Harapan saya hendaknya subsidi pendidikan diberikan per mahasiswa, baik negeri maupun swasta. Tentu saja masyarakat masih harus menambah.

Di samping itu, pemerintah perlu memberi secara tuntas anak-anak muda dari keluarga tidak mampu,terutama di pedesaan. Jangan hanya biaya kuliah,yang mahal bukan biaya kuliah, tetapi juga biaya hidup, pondokan di kota-kota di mana mereka belajar. Jadi kalau menolong rakyat yang tuntas, jangan suatu program beasiswa yang tidak pasti datangnya, dan tidak pasti jangka waktunya. (fefy dwi haryanto)

 
Ori-baba News © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum